Contoh Laporan Praktikum Ekosistem Pantai (Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana)

 

I.          Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali adalah:

1.      Untuk mengetahui ekosistem yang ada di pantai

2.      Untuk mengetahui komponen jenis hewan dan tumbuhan yang menyusun ekosistem pantai

 

II.          Dasar Teori

2.1     Ekosistem

Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan hubungan timbal balik yang kompleks antara mahluk hidup dengan lingkungannya, baik yang hidup (biotik) dan tak hidup (tanah, air, udara) yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem ekologi (Saktiyono, 2008).

Komponen penyusun ekosistem dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik yaitu bagian dari suatu ekosistem yang terdiri dari mahluk hidup. Sedangkan komponen abiotic yaitu bagian dari suatu ekosistem yang terdiri atas mahluk tak hidup seperti cahaya, udara dan air (Netty, 2015).

 

2.2     Ekosistem Lamun

Ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem yang terdapat di daerah pesisir. Padang lamun merupakan ekosistem yang terdiri dari satu atau lebih spesies lamun yang berin teraksi dengan faktor biotik dan abiotic di lingkungannya (Harylen et al., 2007).

2.2.1        Jenis Lamun

            Adapun beberapa jenis lamun yang terdapat di Indonesia adalah sebagai berikut

2.2.1.1       Halophila ovalis

Jenis lamun ini memiliki ciri yakni ada akar pada setiap nodusnya. Tiap nodus terdiri dari sepasang daun dengan jarak antara nodus kurang lebih 1,5 cm. panjang helaian daunnya kecil dan tulang daunnya berjumlah 10-20 pasang (Agus, 2015).

Adapun klasifikasi dari Halophila ovalis adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Helobiae

Famili            : Hydrocharitaceae

Genus            : Halophila

Spesies          : Halophila ovalis

(Waycott et al., 2004).

 

2.2.1.2       Cymodocea rotundata

Lamun jenis ini memiliki tepi daun yang halus atau licin, tidak bergerigi, dengan tulang daunnya yang sejajar dan akar pada tiap nodusnya terdiri daari 2-3 helai. Akarnya tidak bercabang dan tidak mempunyai rambut akar. Tiap nodus hanya terdapat satu tegakan (Waycott et al., 2004).

Adapun klasifikasi dari lamun Cymodocea rotundata adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Potamogetanales

Famili            : Cymodoceaceae

Genus            : Cymodocea

Spesies          : Cymodocea rotundata

(Waycott et al., 2004).

 

2.2.1.3       Syringodium isoetifolium

Jenis lamun ini memiliki bentuk daun yang silinder dan terdapat rongga udara di dalamnya. Lamun ini biasanya ditemukan di Indo-Pasifik Barat di seluruh daerah tropis (Waycott et al., 2004).

Adapun klasifikasi dari Syringodium isoetifolium adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Potamognotales

Famili            : Cymodoceaceae

Genus            : Syringodium

Spesies          : Syringodium isoetifolium

(Nybakken, 1992).

 

2.2.1.4       Enhalus acoroides

Jenis lamun ini memiliki ciri-ciri khas yakni daunnya berbentuk pita tanpa ligula atau petiole tanpa selubung daun. Selain itu, rimpangnya diutupi oleh serabut kaku berwarna hitam serta akar besar yang menancap kuat pada substrat (Den Hartog et al., 2006).

Adapun klasifikasi dari Enhalus acoroides adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Helobeae

Famili            : Hydrocharitales

Genus            : Enhalus

Spesies          : Enhalus acoroides

(Waycott et al., 2004).

 

2.2.1.5       Thalassia hemprinchii

Lamun jenis ini memiliki rhizoma yang berwarna coklat atau hitam dengan ketebalan 1-4 mm dan panjang 3-6 cm. setiap nodusnya ditumbuhi satu akar dimana akar tersebut dikelilingi oleh rambut kecil yang padat. Setiap tegakannya mempunyai 2-5 helai daun dengan opeks daun yang membulat (Purnomo et al., 2008).

Adapun klasifikasi dari lamun Thalassia hemprinchii adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Helobiae

Famili            :  Hydrocharitales

Genus            : Thalassia

Spesies            : Thalassia hemprinchii

(Purnomo et al., 2008).

 

2.2.1.6       Halophila sulawesii

Jenis lamun ini adalah spesies jenis yang baru ditemukan yang tumbuh di air dalam sekitar karang di kepulauan spermonde barat daya Sulawesi. Spesies ini berhubungan erat dengan Halophila ovalis dan Halophila capricornii hanya memiliki perbedaan dalam jumlah yang cukup vegetative dan perbedaan lainnya adalah Halophila ovalis dioecious sedangkan Halophila sulawesii monocious

Adapun klasifikasi dari Halophila sulawesii adalah:

Kingdom       : Plantae

Filum             : Tracheophyta

Kelas             : Liliopsida

Ordo              : Hydrocharitales

Famili            : Hydrocharitaceae

Genus            : Halophila

Spesies          : Halophila sulawesii

(Kuo, 2007).

 

 

2.2.1.7       Halodule uninervis

Jenis lamun ini memiliki ujung daun yang berbentuk trisula dan runcing, terdiri dari 1-3 urat halus yang jelas terlihat, dan memiliki sarung serat dan rhizoma berwarna putih dengan serat-serat berwarna hitam kecil pada nodusnya. Lamun ini biasanya ditemukan di daerah tropis dan sangat umum di daerah intertidal (Waycott et al., 2004).

Adapun klasifikasi dari Halodule uninervis adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Potamogetanales

Famili            : Cymodoceaceae

Genus            : Halodule

Spesies          : Halodule uninervis

(Waycott et al., 2004).

 

2.2.1.8       Thalassodendron ciliatum

Lamun jenis ini memiliki jenis daun yang berbentuk sabit. Rhizomanya sangat keras dan berkayu. Dan terdapat bekas-bekas goresan diantara rhizoma dan tunasnya (Den Hartog, 1970).

Adapun klasifikasi dari Thalassodendron ciliatum adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Potamogetanales

Famili            : Cymodoceaceae

Genus            : Thalassodendron

Spesies          : Thalassodendron ciliatum

(Nybakken, 1992).

 

 

2.2.1.9       Halodule pirifolia

Lamun jenis ini merupakan spesies terkecil dari genus Halodule. Bentuk daunnya lurus dan tipis, dan biasanya pada bagian tengah ujung daun robek. Lamun ini dapat ditemukan di sepanjang Indo-Pasifik Barat di daerah tropis dan sangat umum di daerah intertidal (Den Hartog, 1970)

Adapun klasifikasi dari Halodule pirifolia adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Potamogetanales

Famili            : Cymodoceaceae

Genus            : Halodule

Spesies          :  Halodule pirifolia

(Den Hartog, 1970).

 

2.2.1.10   Cymodocea serrulata

Jenis lamun ini memiliki daun yang berbentuk selempang yang melengkung dengan bagian pangkal menjepit kearah ujung agak melebar. Ujung daunnya bergerigi dan memiliki warna hijau atau orange pada rhizome (Tuwo, 2011).

Adapun klasifikasi dari Cymodocea serrulata adalah:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Anthopyta

Kelas             : Angiospermae

Ordo              : Potamogetanales

Famili                        : Cymodoceaceae

Genus                        : Cymodocea

Spesies                      : Cymodocea serrulata

(Tuwo, 2011).

 

2.2.2        Algae

Algae dibagi kedalam tiga kelas besar yaitu, Rhodophyceae (alga merah), Phaeophyceae (alga coklat), dan yang terakhir adalah Chlorophyceae (alga hijau) (Anggadiredja, 2008).

Adapun klasifikasi dari alga yang diamati yakni alga coklat Padina australis adalah:

Kingdom       : Chromista

Filum             : Ochrophyta

Kelas                         : Phaeophyceae

Ordo                         : Dictyotales

Famili            : Dictyotaceae

Genus            : Padina

Spesies          : Padina australis

(Guiry, 2018).

Alga coklat memiliki thallus berwarna coklat yang bervariasi dari coklat tua sampai coklat muda. Bentuk thallusnya juga beranekaragam. Ada yang memiliki bentuk silindris, gepeng, dan juga lembaran (Widiyastuti, 2009).

 

2.3     Invertebrata

Invertebrata laut  adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang dan hampir dapat ditemukan diseluruh kawasan perairan laut, termasuk kawasan pesisir pantai seperti terumbu karang (Abdul, 2007).

Hewan invertebrate (tidak bertulang belakang) terdiri dari beberapa golongan, yaitu: hewan bersel satu (protozoa), hewan jenis cacing (vermes), hewan lunak (moluska), hewan berongga (coelenterata), hewan berkulit duri (Echinodermata), dan hewan berbuku-buku (anthropoda) (Waluyo dan Irianto, 2010).

Salah satu contoh dari hewan invertebrate yang berada diperairan laut adalah bintang laut. Adapun  klasifikasi dari bintang laut dengan spesies Protoreaster nodosus adalah:

Kingdom           : Animalia

Filum                             : Echinodermata

Kelas                              : Farcipulatida

Ordo                              : Asteridae

Famili                             : Asteroidea

Genus                            : Protoreaster

Spesies               : Protoreaster nodosus

(Clark and Rowe, 1971).

 

III.          Metodologi

3.1  Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat diadakannya praktikum biologi dasar kali ini adalah di Pantai Samuh, Desa Jimbaran Kecamatan Kuta Selatan pada hari minggu, 18 November 2018 pukul 16.00-18.30 WITA

3.2  Alat dan Bahan

3.2.1        Alat

Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:

Tabel 1. Alat dan Kegunaan

No

Alat

Jumlah

Kegunaan

1

Alat dasar selam

1 buah

Untuk menyelam

2

Papan jalan/fin

1 pasang

Untuk menyelam

3

Alat tulis

1 buah

Untuk mencatat hasil pengamatan

4

kamera

1 buah

Untuk mendokumentasikan hasil pengamatan

 

3.3  Cara Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum kali ini adalah:

3.3.1                Pengamatan langsung

1.    Alat untuk praktikum disiapkan

2.    Kemudian dipilih beberapa orang dari setiap kelompok untuk melakukan observasi

3.    Lalu alat dasar selam digunakan dengan baik dan benar oleh setiap praktikan

4.    Selanjutnya diamatinya ekosistem yang ada di Pantai Samuh oleh setiap praktikan

5.    Setelah diamti hasil pengamatan didokumentasikan oleh anggota kelompok yang tidak turun ke lapangan

6.    Setelah pengamatan selesai hasil pengamatan kemudian dicatat menggunakan alat tulis

 

IV.          Hasil Pengamatan

 

V.          Pembahasan

5.1     Lamun

Dari pengamatan langsung yang telah dilakukan di Pantai Samuh, dapat diketahui bahwa lamun merupakan suatu jenis tumbuhan yang telah sepenuhnya beradaptasi hidup di lingkungan laut. Lamun umumnya terdapat pada daerah pesisir sesai dari pengamatan yang telah dilakukan. Adapun, benar menurut Harxylen bahwasannya ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem yang terdapat di daerah pesisir. Dari hasil pengamatan langsung yang telah dilakukan juga, ada beberapa jenis tumbuhan lamun yang dapat ditemukan di pantai samuh diantaranya, Halophila ovalis, Enhalus acoroides, dan Syringodium isoetifolium.

Halophila ovalis adalah jenis lamun yang terdiri dari sepasang daun dengan jarak antara nodus kurang lebih 1,5cm. dari hasil pengamatan juga dapat diketahaui bahwa pembeda Halophila ovalis  dengan jenis lamun Halophila  lainnya adalah jumlah tulang daunnya yang berjumlah 10-20 pasang.

Enhalus acoroides adalah jenis lamun yang memiliki karakteristik yakni rimpangnya tertutupi serabut kaku berwarna hitam dan daun yang berbentuk pita. Hal tersebut juga didapat melalui pengamatan langsung.

Syringodium isoetifolium, dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa jenis lamun iini memiliki ciri khas yang sangat unik yang membedakannya dari jenis lamun lainnya, yakni bentuk daunnya yang silinder seperti lidi dan terdapat rongga udara didalamnya.

5.2     Bintang Laut

Dari pengamatan langsung yang telah dilakukan juga, dapat diketahui bahwa pada ekosistem lamun terdapat penyusun biotik lain seperti hewan-hewan vertebrata.salah satu yang dapat ditemukan di Pantai Samuh adalah jenis bintang laut Protoreaster nodosus. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwaaabintang laut jenis ini memiliki ciri khas yakni memiliki sejenis tanduk atau duri diatas tubuhnya. Bintang laut jenis ini  biasanya dapat ditemukan di daerah Indo-Pasifik.

 

VI.          Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini adalah

1.        Ekosistem merupakan hubungan timbal balik yang kompleks antara mahluk hidup dengan lingkungannya yang saling memengarauhi satu dengan yang lainnya. Ada banyak jenis ekosistem yang ada di muka bumi, salah satunya adalah ekosistem yang ada di pantai. Di pantai juga ada sangat banyak ekosistem, contohnya adalah ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan juga ekosistem lamun. Adapun, ekosisem padang lamun merupakan salah satu ekosistem yang terdiri dari satu atau lebih spesies lamun yang berinteraksi dengan komponen biotik dan abiotik.

2.        Adapun komponen penyusun ekosistem dapat disimpulkan sebagai suatu penyusun ekosistem yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Contoh daripada komponen biotik pada ekosistem adalah hewan dan tumbuhan. Adapun contoh dari hewan yang menyusun ekosistem pantai





DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Gani, Eka Rosyida, Novalina Serdiati. 2007. Keanekaragaman Jenis Invertebrata yang Berasosiasi dengan Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Teluk Palu Kelurahan Panau Kota Palu

Agus.2015. Pertanian Indonesia Menuju Millenium Development Goals

Anggadiredja, J.T., A. Zatnika, H. Purwo dan S. Istini. 2008. Teknologi Pemanfaatan Rumput Laut. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Dewan Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Clark, A.M. Rowe, F.W.E. 1971. Monograph of Swallow-water Indo-West Pacific Echinoderms. London. Trustees of the British Museum

Den Hartog, C. 1970. The Seagrasses of the World. North Holland. Amsterdam

Den Hartog dan Kuo J. 2006. Taxonomy and Biography of Seagrasses. Global Seagrass Research Methods

Dody Prisambodo. 2007. Sebaran Jenis-Jenis Lamun di Sulawesi Selatan. Jurnal Bionature. Universitas Negeri Makasar.

Guiry, M.D. 2018. Algae Base. World-Wide Electronic Publication National Un iversity of Ireland, Galway.

Harxylen Kiranti Purnomo, Yuni Yusniawati, Alfiatri Putrika, Windri Handayani, Yasman. 2007. Seagrass Species Diversity Varies Seagrass Bed Ecosystem in the West Bali National Parth Area

Kuo, J. 2007. New Monocious of Seagrass Halophila sulawesii (Hydrocharitaceae) from Indonesia Aquatic Botani.

Netty Demak H. Sitanggang. 2015. Peningkatan Belajar Ekosistem Melalui Penggunaan Laboratorium Alam

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia. Jakarta

Purnomo, Bambang. 2008. Peralatan dan Prosedur Praktikum. Jakarta

Saktiyono. 2008. Seribu Pena Biologi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta. Erlangga

Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut- Suatu Pendekatan Ekologi, Sosial-Ekonomi, Kelembagaan, dan Sarana Wilayah. Brilian Internasional. Surabaya

Waluyo, K. dan Irianto, K. 2010. Memahami Sains Zoologi. Penerbit: PT Sarana Ilmu Pustaka, Bandung

Wayycott M, et all. 2004. A guide to Tropical Seagrasses of the Indo-West Pacific. Townsville. James Cook University

Widiastuti. 2009. Kadar Alginat Rumput Laut yang Tumbuh di Perairan Lombok yang Diekstrak Dengan Dua Metoda Ekstraksi. Jurnal Teknologi Pertanian. Fakultas Pertanian, Universitas Mataram


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Sel, Perbedaan sel eukariotik dan Prokariotik beserta contoh nya, serta contoh laporan praktikum sel eukariotik dan prokariotik